NAAMER1CAN0


Semua yang terjadi pada hidupnya serba tiba-tiba. Siang tadi ia tiba-tiba mendapatkan pesan ajakan untuk menongkrong bersama Harri dan teman-teman. Beberapa saat setelahnya, ia tiba-tiba ditawari untuk datang bersama seseorang yang tak disangka-sangka akan memberinya tumpangan. Lalu, tiba-tiba kerongkongannya terasa kering sampai-sampai ia sama sekali tak dapat membawa percakapan sedikit pun di atas motor sang pemiliknya.

Anehnya sang pemilik motor tak terasa keberatan saat ia memilih membungkam mulut alih-alih mengajaknya berbicara. Namun, ada sedikit kekecewaan lantaran laki-laki itu tak memiliki inisiatif untuk memunculkan topik obrolan. Sampai akhirnya, tiba-tiba saja kendaraan itu berhenti tepat di tempat yang sudah dijanjikan untuk mengisi waktu yang luang. Lagi-lagi semua terasa tiba-tiba.

Syifa turun dari motor, dengan perasaan penuh rasa sungkan, ia mencengkeram pundak sang kakak kelas—menjadikan pundak itu sebagai bantuan. Secuil perasaan senang muncul ketika laki-laki itu tak menarik pundak, Syifa menarik simpulan kalau tindakan secara impulsif itu tak memberatkan sang pemilik motor.

“Nanti yang masuk duluan mau Kak Jaya dulu atau Syifa dulu, Kak?” tanya Syifa.

Tangan Syifa bergerak merapikan pakaian yang mungkin tak sengaja terlipat oleh angin ketika dalam perjalanan tadi.

Jaya yang sedang sibuk membenarkan motornya terparkir spontan mengerutkan dahi. “Kenapa masuknya harus gantian?”

“Biar nggak nimbulin pertanyaan dari Aa-Aa yang udah dateng duluan kalau liat Syifa sama Kak Jaya datengnya barengan.” Syifa menjawab pertanyaan itu seadanya.

Jaya diam sejenak, sampai akhirnya ia luangkan waktu untuk menatap penuh kedua bola mata hitam sang adik kelas. “Emang kenapa kalau mereka liat Jaya sama Syifa dateng barengan?”

Jaya berani sumpah, ia menjawab pertanyaan itu tanpa adanya intonasi menggertak. Tetapi sepertinya sang adik kelas mengartikan lain, sampai-sampai Jaya bisa lihat pupil mata gadis itu melebar.

Aduh, Syifa jadi menyesal sendiri karena sudah menjawab pertanyaan itu tanpa merangkai kata-kata yang lebih halus untuk didengar.

“Takut mereka mikir macem-macem, Kak.” Syifa memainkan jari, kentara memperlihatkan gerak-geriknya yang merasa bersalah.

Jaya mencabut kunci motor, lalu menggerakkan setang motor untuk memastikan kalau motornya benar-benar sudah terkunci. “Jaya nggak masalah. Tapi, kalau Syifa emang nggak nyaman, yaudah. Syifa duluan aja yang masuk, nanti Jaya masuk lima belas menit kemudian.”

Syifa menggeleng cepat, tubuhnya menegak. “Nggak, Kak. Bukan kayak, gitu!” Tangannya menyilang di depan dada, lalu kepalanya tak henti menggeleng-geleng. “Kalau emang Kak Jaya nggak keberatan, ayo kita sekarang masuk barengan aja, Kak!”

Melalui intonasi suara itu, Jaya paham kalau sang adik kelas tengah berusaha menebus rasa bersalahnya.

Syifa baru saja akan melangkahkan kaki, namun ia langsung urungkan begitu menyadari sang kakak kelas masih terdiam duduk di atas motornya. “Kenapa nggak turun, Kak? Kak Jaya berubah pikiran? Mau Syifa duluan yang masuk?” Rentetan pertanyaan itu Syifa lontarkan dalam satu kali tarikan napas.

Alih-alih segera menjawabnya, Jaya malah menyilangkan tangan sembari mengabsen Syifa dari atas kepala sampai kaki.

Menerima perlakuan itu, Syifa makin dibuat bingung. “Kak Jaya kenapa?”

Dagu Jaya bergerak menunjuk ke arah kepala sang gadis. “Syifa beneran mau pake itu sampe ke dalem sana?” Salah satu alis Jaya terangkat, seolah tengah mencari alasan mengapa sang adik kelas bersikeras ingin membawa benda itu ke dalam sana alih-alih menyimpannya di motor.

Syifa buru-buru meraba benda di atas kepalanya. Sepersekian detik kemudian Syifa membulatkan mata. Mengapa ia selalu melupakan keberadaan benda bulat di kepalanya? Dulu, ia pernah berada di posisi ini ketika kakak kelas itu mengantarkan pulang.

Jaya terkekeh-kekeh. “Udah Jaya tebak, sih, kalau nggak kerasa masih pake helm.” Tangannya menengadah siap untuk menerima helm yang akan diserahkan Syifa.

Syifa pernah mengatakan kalau pemandangan laki-laki itu sedang tertawa merupakan salah satu pemandangan yang ia sukai, namun pada saat-saat tertentu—seperti sekarang ini, Syifa sebal sendiri saat tawa renyah itu memasuki indra pendengarannya.

“Cih, ketawanya kayak lagi ngeledek Syifa banget, tau, Kak.” Syifa menyerahkan helm, kemudian langsung diterima dan disimpan di atas motor sang pemiliknya.

“Emang.” Jaya mengangguk membenarkan.

Tak berselang dari jawaban yang sukses membuat Syifa mengerucutkan bibir sebal, laki-laki itu turun dari motor dan bersiap-siap memasuki kafe. Jaya yang memandu perjalanan, sementara Syifa berjalan satu langkah lebih lambat. Sebab, Syifa berpikir kalau Jaya pasti sudah bertukar kabar dengan teman-temannya di dalam sana. Sehingga, ia tak perlu repot-repot mencari di mana meja mereka berada.

Usai berhasil melangkahkan kaki memasuki bangunan itu, Syifa spontan mengedarkan pandangan. Ia dan Jaya sempat beberapa kali bertukar pandangan untuk bertanya apakah akan memesan sekarang atau nanti setelah mengetahui meja mereka. Awalnya Syifa menjawab kalau lebih baik memesan setelah mengetahui di mana letak meja mereka—sekaligus untuk mengetahui nomor meja agar memudahkan memesan. Tetapi, setelah Jaya mengungkapkan keinginannya, ia menyetujui untuk memesan lebih dulu dan mengambil nomor baru.

Syifa hanya perlu memperhatikan para pengunjung yang berada di dekat kolam, sebab Jaya mengatakan kalau keberadaan teman-temannya ada di sana.

Jaya kembali bersama nomor meja yang sudah berada di genggaman laki-laki itu.

“Punya Syifa jadi berapa, Kak?” tanya Syifa, sudah siap mengeluarkan uang namun segera dicegah dengan tepukan yang ia rasakan pada punggung tangan.

“Nggak usah.”

“Ah, nggak mau kayak gitu. Udah ditumpangin dateng ke sini, masa Syifa sampe dibayarin juga?”

Jawaban itu menuai tawa yang lolos dari mulut Jaya. “Yaudah, Syifa nanti bayarin parkir aja pas mau pulang.”

Alis Syifa bertaut. “Mana bisa kayak gitu! Nggak adil, dong?”

“Daripada nggak sama sekali?” Jaya mengangkat bahu. “Kalau emang nggak mau, yaudah, nggak usah bayar. Uang dari Syifa nanti juga nggak akan Jaya ambil.” Bon pesanan itu Jaya masukkan ke dalam saku, sengaja agar sang adik kelas tak mengetahui berapa banyak gadis itu perlu mengeluarkan uang demi membayar pesanannya.

“Yaudah, oke, Syifa nanti yang bayar biaya parkirnya.” Syifa cemberut, kakinya mengentak-entak kecil ketika berjalan demi menghampiri meja teman-teman laki-laki itu.

Tinggal menyisakan beberapa langkah untuk dapat mendatangai meja itu, Syifa dan Jaya langsung dibuat bingung usai disuguhkan pemandangan mereka sedang bergantian menyentil dahi Aksara dan Yolan.

Syifa menoleh, ingin meminta jawaban dari apa yang sudah dilihatnya pada Jaya. Sedang Jaya yang tak tahu-menahu hanya bisa menggelengkan kepala. Bagaimana Jaya bisa mengetahui ketika sedari tadi ia bersama gadis itu?

“Hayu taruhan kata maraneh si Ajay sama si Cipa datengnya bakal barengan atau misah?” kata Harri, menyandarkan punggung.

Sebagai salah satu kegiatan menghabiskan waktu—pun sebagai agenda menunggu kedua orang yang belum terlihat akan tanda-tanda kedatangannya—Harri berusaha memunculkan percakapan-percakapan agar di meja mereka tak terlalu senyap. Sampai sebuah kalimat itu tanpa sengaja lolos dari mulutnya begitu saja.

“Misah, sih. Aing mikir kalau si Ajay kayaknya nggak akan seberani itu buat ngajak barengan ke sini,” sahut Aksara.

Bukan tanpa alasan Aksara menuturkan kalimat itu, sebab adegan demi adegan yang masih tersimpan rapi di otaknya mengenai tindakan Jaya kepada sang adik kelas, Aksara mampu mengungkapkan kalimat itu tanpa berpikir panjang.

Jagat menyunggingkan senyuman di tengah-tengah kegiatan menyeruput kopi. “Saya pilih mereka dateng barengan.” Gelas kopi itu Jagat simpan kembali di meja.

“Nggak mungkin, si mereka pasti dateng misah bener kata si Aksa!” Yolan menentang.

Rakha memajukan badan. Tangannya mengacung. “Acungin tangan kalau maraneh pilih si Ajay sama si Syifa dateng barengan.” Rakha menganggukan kepala saat melihat Harri dan Jagat mengacungkan tangan penuh percaya diri. “Sekarang acungin tangan kalau maraneh pilih mereka pasti dateng misah.” Rakha menurunkan tangan, dan melihat hanya Aksara Yolan yang mengacungkan tangan.

Rakha menjentikkan jari. “Oke, tiga lawan dua, ya. Yang kalah diapain, Hag?” tanya Rakha.

Harri bergantian memandang Aksara dan Yolan dengan wajah penuh arti. “Jepat tarang,” ucap Harri menghadiahi kerutan pada dahi Jagat.

Jagat menoleh ke arah Rakha. Paham akan perlakuan itu, Rakha mempercepat menelan cairan yang baru saja disesapnya. “Nyentil dahi,” kata Rakha, menerjemahkan ucapan Harri untuk Jagat.

Kemudian Jagat mengangguk-angguk menyetujui saran itu. “Deal. Dua kali, ya.”

Harri menyambut kedatangan dua orang itu dengan senyuman lebar. Laki-laki itu bahkan sampai berdiri, meraih gelasnya untuk pindah ke kursi yang lain. Menyadari akan tepukan yang Harri berikan, Aksara pun mengikuti gerak-gerik temannya untuk berpindah. Menyisakan kedua kursi bersebelahan untuk Jaya dan Syifa yang baru datang.

“Jam empat banget, ya,” kata Jagat, sedikit menyiratkan kalimat sindiran karena pada kenyataannya kedua orang itu terlambat sekitar dua puluh menit dari waktu yang sudah dijanjikan.

Yolan melirik sembari cengengesan. “Kayaknya, sih, abis jalan-jalan dulu. Liat aja baju si mereka sampai senada gitu!” goda Yolan.

Jaya dan Syifa refleks menatap pakaian yang mereka gunakan. Jaya menggunakan celana jin hitam panjang sedikit sobek pada bagian lutut, kaos hitam bergambar salah satu band rock asing, lalu jaket polos berwarna hitam. Sementara Syifa menggunakan celana jin putih, kaos ungu muda, serta cardigan ungu yang selalu ia pakai ke mana pun. Syifa sangat sayang dengan cardigan-nya sampai-sampai ia menginginkan seluruh orang mengetahui keberadaannya.

“Mana ada, beda juga warnanya,” timpal Jaya.

“Sama!” Yolan menyipitkan mata. “Si kalian sama-sama pake celana jin, kaos, terus jaket!”

Jaya menunjuk Harri serta Aksara bergantian. “Itu si Hag sama si Aksa juga pake baju kayak aing.” Jaya berusaha keras menentang agar ia dan Syifa tak menjadi bulan-bulanan teman-temannya. Karena demi apa pun, Jaya tahu apa yang ada dalam pikiran mereka saat ini.

Kepala Yolan menegok, mengabsen pakaian temannya. “Tapi si mereka celananya pendek! Nggak panjang kayak punya si kalian!”

“Udah, Lan. Kasian mereka nanti salah tingkah kalau kamu gertak kayak gitu. Dengan mereka dateng barengan aja harusnya kamu udah ngerti, sih, apa yang lagi terjadi,” ujar Jagat, kedua alisnya turun dan naik seakan sedang menggoda kedua orang itu.

Maraneh dateng ke sini barengan atau nggak sengaja ketemu di depan?” Rakha penasaran.

“Syifa sama Kak Jaya nggak sengaja ketemu di—”

“Bareng, aing jemput ke rumahnya.”

Syifa memelotot, menengok pada Jaya. Namun sayang, ia tak menemukan sedikit pun ekspresi apa pun dari wajah laki-laki itu selain tatapan datar.

Bagong, bengeut aing!” hardik Harri setelah merasakan semburan yang berasal dari Yolan. Sedangkan Yolan yang menjadi tersangka tengah terbatuk-batuk karena tak mempercayai apa yang baru saja ia dengar.

Harri meraih tisu yang diberikan Rakha, ia mengusap-ngusap wajahnya yang terkena cipratan dari mulut Yolan. Berani sumpah, Harri lupa untuk menghindari satu temannya itu ketika menongkrong. Titik kesabaran Harri sudah berada di ujung tanduk kalau harus berhadapan dengan tingkah laku Yolan yang selalu tersedak dan berakhir mengeluarkan seluruh air minum di dalam mulutnya tanpa melihat situasi.

“Cieeeee.” Siulan kecil Jagat lantunkan. Tangannya menempuk-nepuk bangga dengan tindakan Jaya yang sudah jauh lebih berani dari kemarin-kemarin.

Jaya menatap sinis. “Diem, Monyet.” Lalu Jagat langsung membungkam mulut, memberikan gestur hormat untuk mengikuti perintah dari yang bersangkutan.

“Syifa.” Panggilan dari Harri dibalas tatapan penasaran, Syifa diam untuk menunggu kalimat apa yang akan dilanjutkan kakak kelasnya. “Syifa pasti bertanya-tanya, kan, kenapa tiba-tiba diajakin nongkrong sama Aa?” Syifa mengangguk.

“Syifa mau tau nggak alesannya apa?” Syifa lagi-lagi mengangguk. “Jadi, alesannya itu karena—”

Tanpa berpikir panjang mengenai efek dari tingkah lakunya, Jaya secara tiba-tiba langsung melempar nomor meja ke arah Harri yang sedang menyeringai. “Diem, Monyet!”

Lantas, perlakuan itu langsung dihadiahi gelak tawa dari seisi meja. Syifa yang belum sempat menemukan jawaban itu hanya bisa mengedip-ngedipkan mata kebingungan.

“Kenapa emang, Kak? Kak Jaya tau jawabannya?” bisik Syifa.

“Nggak. Nanti kalau mereka ngomong yang aneh-aneh, Syifa jangan dengerin.” Jaya mewanti-wanti, sebab ia tahu betapa lancarnya mulut teman-teman itu dalam mengungkapkan sesuatu. Ia sedikit khawatir, kalau mulut itu akan mengucapkan kalimat yang tidak-tidak mengenainya.

Lantaran terus dihadiahi tatapan tak bersahabat dari laki-laki yang duduk di samping Syifa, akhirnya mereka pun segera mengganti topik obrolan. Satu per satu dari mereka mulai membawa cerita yang mampu membuat dihadiahi tatapan tak percaya. Contohnya seperti Harri membawa cerita gosip hangat mengenai kisah percintaan guru muda di sekolah yang ia dapatkan dari kakak kelasnya.

Di tengah-tengah Harri bercerita, Jaya melirik jam pada tangannya yang sudah menunjukkan hampir jam setengah tujuh malam. “Mau pulang jam berapa, Syifa?”

“Syifa nanti bareng Kak Jaya lagi pulangnya?”

Jaya mengangguk. “Iya. Kan, tadi Jaya yang jemput, berarti Jaya juga yang nganterin Syifa pulang.”

Syifa berpikir sejenak. “Pulangnya nanti barengan aja sama yang lainnya, Kak Jaya.”

Pandangan Jaya tertuju pada wajah serius keempat temannya yang sedang mendengarkan Harri bercerita. “Mereka kayaknya bakalan pulang malem. Soalnya abis dari sini Jaya mau ngajak Syifa makan bakmi dulu.” Bola mata hitam miliknya kemudian bersinggungan dengan bola mata gadis itu.

Mendengar nama makanan yang baru saja disebutkan laki-laki itu, mata Syifa berbinar. “Gimana kalau jam tujuh malem, Kak Jaya?”

Jaya tersenyum seraya mengangguk. “Boleh.”

Lalu, Syifa bisa rasakan tepukan pelan pada pundaknya. “Udah. Sekarang Syifa udah bisa perhatiin lagi Harri yang lagi cerita. Maaf tadi udah Jaya ganggu bentar.”

Jika kalian berpikir kalau lilin dan plastik adalah salah satu barang yang mudah meleleh, maka jawabannya salah. Sebab, jawaban yang benar adalah ketika ia dihadapkan dengan sang kakak kelas itu. Jari-jarinya tak mampu digerakkan untuk meraih gelas demi membasahi kerongkongan yang tercekat akibat perlakuan lembut dari laki-laki itu. Lututnya terasa lemas, saking lemasnya ia tak bisa memindahkan ketika merasakan ada kaki lain yang mengenainya. Setelah ditelusuri, itu adalah kaki Jaya.

Intonasi suara laki-laki itu ketika mengajak teman-temannya bicara dan ketika mengajaknya bicara sangat berbeda. Dengan teman-temannya, Jaya mampu meninggikan suaranya. Tapi, saat berbicara dengannya, telinga Syifa tak pernah sedikit pun mendengar ucapan laki-laki itu meninggi. Belum lagi ditambah senyuman yang terus menghiasi wajah tampannya ketika mengajaknya mengobrol. Syifa sudah kalah telak dari berbagai sisi mana pun.


Puspas Niskala Universe

by NAAMER1CAN0


Ketika gadis itu menawarkan apakah ia akan masuk ke dalam rumah sekadar untuk menghilangkan dahaga, ia seharusnya menolak. Padahal saat pertanyaan itu selesai diucapkan sang pemilik rumah, Jaya telah berusaha sekuat tenaga memerintah otaknya mempersiapkan kalimat halus untuk menolak. Namun, kakinya dengan tak tahu diri malah bertolak belakang—bergerak melangkah mendekati rumah dengan nuansa warna ungu.

Selama ini Jaya hanya berani untuk memarkirkan motornya di depan pagar putih itu, tetapi hari ini tanpa diduga-duga, motor hitamnya berhasil melintasi pagar tersebut. Sudah ada kemajuan, bukan?

Rumah minimalis berwarna ungu. Di halamannya terdapat pohon rambutan yang tak terlalu besar, ajaibnya pohon itu sudah berbuah walau masih kecil-kecil. Di dekat pintu masuk, daun-daun hijau merambat di sekitaran jendela. Jaya sudah pastikan meski terik sinar matahari di atas sana sedang merajalela, rumah ini tetap memberikan suasana sejuk. Meskipun ketika sore menjelang petang tiba, besar kemungkinan akan menjadi ladang para nyamuk-nyamuk untuk berkumpul.

Mendengar pintu dibuka, seorang laki-laki yang lebih muda lantas membulatkan mata saat melihat si sulung tak pulang sendiri—melainkan bersama seseorang yang tak disangka-sangka menyambangi kediamannya.

Kedua ujung bibir Ary—adik Syifa—terangkat dengan lebar, senang sekali melihat pemandangannya saat ini. “Ih, ka—”

Di belakang Syifa, Jaya terburu-buru menyimpan jari telunjuk di depan bibir seraya menggelengkan kepala. Melalui gestur itu, Jaya berharap laki-laki di seberang sana akan mengerti perintahnya untuk tak membeberkan rahasia mereka.

Seolah paham, Ary lantas bungkam.

“Ary, ini aku bawa tamu. Namanya Kak Jaya, dia kakak kelas aku di sekolah. Kak Jaya tadi nganterin aku pulang terus aku suruh masuk dulu buat minum soalnya pasti panas dan haus.” Syifa beralih menatap Jaya. “Kak Jaya itu Ary adik Syifa. Kak Jaya duduk dulu aja, ya, Syifa mau ambilin minum dulu.”

Melihat kepergian Syifa menuju dapur, Ary terburu-buru bangkit, kepalanya mengangguk bersamaan dengan telapak tangan bergerak-gerak seakan memanggil yang lebih tua untuk menghampiri dan ikut duduk di sebelahnya. Meskipun tak bersuara, tetapi Jaya masih bisa mengerti akan pergerakan bibir Ary.

Ary tak henti mengumbarkan senyuman lebar saat Jaya mengikuti perintahnya untuk duduk. “Kenalin aku Ary, adik Teteh Syifa. Aku kelas 2 SMP, senang bisa kenalan sama kamu,” kata Ary mengulurkan tangan disertai mata memancarkan tatapan penuh binar.

Jaya hampir saja menutup telinga ketika mendengar suara melengking dari sang pemilik rumah. Selama bermain games dengan Ary, mereka tak pernah main bersama sembari bertelepon. Sehingga, saat mendengar suara Ary secara langsung, Jaya dibuat kaget sendiri.

Jaya tersenyum dan menjabat balik tangan yang lebih muda. “Jaya.”

Ary menggigit bibir, berupaya mati-matian menahan agar senyumannya tak kembali lebar. “Aku udah kenal kamu. Aku seneng banget, deh, kita akhirnya bisa ketemu langsung gini. Artinya kita bisa main games,” bisik Ary mendatangkan tawa kecil dari yang lebih tua.

Kali ini suara Ary lebih rendah, mungkin perkenalan tadi sengaja Ary ucapkan dengan kencang agar kalimat itu bisa sampai ke telinga Syifa yang berada di dapur.

“Main games, yuk, sayang banget kita udah ketemu tapi nggak main games bareng.”

Jaya sempat melirik terlebih dahulu ke arah dapur sebelum mengangguk mengiakan ajakan Ary. “Boleh.” Jaya merogoh ponsel dari kantong celananya, sedang Ary sudah tak sabar menginginkan permainan itu segera dimulai.

Jaya tak tahu apabila niat berkunjung sejenak untuk meneguk cairan segar malah berakhir menundukkan kepala dan menatap lekat layar ponselnya. Padahal Jaya sudah membuat skenario, jika telah selesai menghabiskan air minumnya ia harus buru-buru pergi dari sini. Tapi, keinginan itu tampaknya tak bisa segera terlaksana mengingat di sebelahnya ini adalah seseorang yang gila dalam bermain games.

“Kak Jaya maaf, ya, Syifa lama soalnya tadi susah buat ngeluarin es batunya.” Syifa datang bersama satu gelas es teh manis, dan diletakkan di atas meja.

Jaya melirik sekilas. “Nggak apa-apa. Makasih, ya, Syifa, maaf jadi ngerepotin.” Selepas kalimat itu selesai diucapkan, fokus Jaya kembali tertuju pada ponselnya.

Syifa terdiam sejenak, memandang kedua orang itu penuh tanda tanya. Ada rasa penasaran yang tergambar jelas. Setahunya, Syifa tak sampai meninggalkan mereka berpuluh-puluh menit lamanya, namun mengapa setelah kedatangannya kembali Syifa justru disuguhkan oleh pemandangan kedua orang itu terlihat sangat akrab seakan teman lama yang baru bertemu kembali?

Bahkan, Syifa sendiri tak melihat sedikit pun gelagat canggung dari Ary dalam berkomunikasi dengan Jaya. Justru telinga Syifa dipenuhi gelak tawa saling bersahutan.

Aneh.

“Heh, Anak Kecil, kamu jangan langsung ngajak Kak Jaya main games. Dia capek tau abis ujian tadi.” Jaya menggelengkan kepala, menentang kalimat dari Syifa.

Syifa mendengkus kala mendapati juluran lidah dari adiknya.

Syifa melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas siang lebih dua belas menit. “Kamu udah makan siang belum? Nanti, kan, jam setengah dua kamu harus les.”

“Kata Ibu kalau kamu udah pulang, kamu disuruh beli lauk-pauk ke warung nasi depan buat beliin aku makan. Soalnya Ibu tadi kesiangan jadi nggak sempet masak.” Dagu Ary menunjuk meja televisi. “Uangnya Ibu taro di bawah figura.”

Syifa menghela napas. Bukan tak senang dengan perintah sang ibu, melainkan Syifa malas kalau harus berjalan kaki sampai ujung komplek. Panas, dan malu karena pasti banyak anak-anak sekolah yang diam di warung sebelahnya.

“Kak Jaya, Syifa tinggalin sebentar, nggak apa-apa?” Jaya menatap Syifa, laki-laki itu memberi jawaban melalui senyumannya. Jaya tak keberatan jika ditinggal. “Syifa nitip rumah sebentar, ya. Nggak akan lama, janji!”

Jaya terkikik geli. Lewat kalimat itu seakan-akan ada seseorang yang berniat ingin mengangkut rumahnya. “Iya Syifa, Jaya nggak akan ke mana-mana. Syifa santai aja, nggak usah buru-buru.”


Hal pertama yang dilakukan Syifa saat kembali pulang, tatapannya langsung meluncur ke arah ruang tamu. Terlintas pertanyaan mengapa keberadaan laki-laki itu tak dapat ditemukan, sementara motornya masih terparkir rapi di pelataran.

“Ary, Kak Jaya ke mana?”

“Lagi ke toilet—tuh.” Ary menunjuk Jaya yang baru saja keluar toilet dengan keadaan pakaian basah di beberapa bagian, seperti di dalam sana ada tragedi yang membuat laki-laki itu terpeleset.

“Ih, baju kamu kenapa basah gitu?” Ary memelotot.

“Kak Jaya jatoh? Ada yang kebentur nggak?”

Jaya menggeleng seraya mengusap-ngusap pakaiannya yang basah sembari sesekali meremat. “Nggak jatoh. Tadi kayaknya jet shower-nya rusak, tapi udah Jaya benerin, kok,” timpal Jaya, berjalan menuju sofa. Selama berjalan, kepala Jaya menekuri langkahnya agar tak meninggalkan bekas jejak air dari pakaiannya.

Jet shower itu apa?” tanya kakak beradik itu kompak. Mereka saling bertatapan, kemudian dibalas gelengan juga bahu yang terangkat.

“Semprotan WC.”

Syifa menepuk jidat, suara yang dihasilkan cukup nyaring sampai-sampai membuat Ary dan Jaya menoleh cepat ke arahnya.

“Aduh, Syifa lupa bilang kalau semprotannya emang lagi rusak! Ngomong-ngomong makasih banyak, ya, Kak, udah bantu benerin. Kak Jaya butuh handuk nggak?”

Seharusnya Syifa sudah berlari menuju kamarnya untuk meraih handuk bersih dan menyerahkan kepada laki-laki itu, tetapi kedua kakinya tak dapat diajak kerjasama sehingga yang Syifa lakukan hanyalah memberikan tawaran.

Jaya melihat kondisi pakaiannya yang terkena air ketika mencoba membenarkan kerusakan semprotan toilet. “Nggak usah, nggak apa-apa. Nggak terlalu basah juga.” Jaya tak tahu apakah semprotan toilet itu sudah benar-benar berhasil ia perbaiki, atau akan kembali longgar dalam beberapa jam ke depan. Akan tetapi, setidaknya jika Syifa dan Ary akan memakainya dalam waktu dekat, ia pastikan semprotan itu tak akan serewel yang ia gunakan tadi.

“Ayo kita main games lagi, tadi lagi seru-serunya tapi kamunya malah ke toilet.”

Jaya terlihat ragu akan mengiakan, sebab beberapa detik setelahnya, Syifa kembali membawa piring. Tanpa bertanya dan mendapatkan jawaban pun Jaya sudah tahu apabila makan siang itu untuk Ary—ritual wajib sebelum berangkat les.

“Aku disuapin Teh Jihan, kok, kamu jangan khawatir aku nanti nggak bisa main,” ucap Ary seolah paham dengan kebingungan yang tercetak pada wajahnya.

Syifa merengut. “Emang siapa yang bilang kalau aku mau suapin kamu, Anak Kecil?”

“Aku bilangin Ibu Ratna kamu nggak mau suapin, lho. Kalau kamu nggak usapin aku, aku nggak akan makan. Terus, kalau aku nggak makan siang nanti waktu les perut aku keroncongan, dan jadinya nggak bisa fokus belajar. Kamu mau lihat aku nanti nggak bisa ngisi soal ujian?”

Jaya tersenyum. Kalau Mama nggak suapin Dede, Dede nggak mau makan. Biarin aja, paling nanti pas upacara Dede pingsan karena nggak sarapan dulu. Ancaman itu, persis selayaknya ancaman yang selalu ia berikan kepada Mama Sumarni. Apakah semua bungsu di bumi memiliki kebiasaan mengancam yang sama?

“Yaudah, iya, aku suapin. Tapi, kamu makannya harus yang cepet jangan cuman didiemin di dalem mulut.”

Teteh nggak mau nyuapin Dede, soalnya Dede kalau makan suka lama. Dede suka sengaja diemin makanan di dalam mulut.

Ah, jadi begini, ya, kebiasaan si bungsu. Yang manja, maunya diperhatikan, dan harus selalu dituruti kemauannya.

Jaya bisa lihat dirinya pada diri Ary.

Dan, usai berdebat, Syifa pun tak memiliki pilihan lain selain mengiakan permintaan si bungsu untuk disuapi. Ketika tangannya sibuk memasukkan suapan demi suapan ke dalam mulut, Syifa hanya bisa sabar menunggu Ary mengosongkan mulut.

“Kak Jaya mau makan nggak?” Pandangan Jaya pada layar ponselnya terputus. Mata laki-laki itu bergerak menelusuri tangan Syifa yang sudah berancang-ancang siap untuk menyuapkan. Badan Jaya mendadak kaku.

Mengerti ke arah mana tatapan Jaya tertuju, Syifa langsung menggeleng cepat. “E-eh, bukan, Kak! Kalau misalnya Kak Jaya mau makan Syifa nanti bawain!”

Bodoh. Bisa-bisanya ia telah membimbing jalan pikirannya mengira kalau Syifa akan menyuapinya.

Jaya lantas berdeham guna menghilangkan rasa malunya. “Nggak usah, Syifa. Jaya nggak laper, kok.”

Syifa manggut-manggut. Sendok besi itu kemudian memasuki mulut Ary saat adiknya menolehkan wajah dengan mulut terbuka.

“Ih, kamu kenapa mainnya jadi nggak fokus. Itu hati-hati di depan ada musuh, tadi dia mau nembakin kamu, tau!” Lengkingan suara itu refleks membuat Jaya memejamkan mata sebelah kiri.

“Aku bilangin Ayah, lho, kamu nggak sopan manggil yang lebih tua. Kak Jaya itu lebih tua dari kamu,” ketus Syifa. Syifa tak masalah apabila Ary memanggil dirinya seperti itu, namun untuk dilakukan ke orang lain, jelas-jelas Syifa harus menegurnya. Syifa tak ingin apabila sang adik melakukan kebiasaan itu nantinya.

“Nanti mainnya lebih fokus lagi, ya, Aa,” ralat Ary setelah mendapat teguran dari si sulung.

“Maaf. Tadi Aa kayak denger suara kecoa mau dateng ke sini, makanya jadi nggak fokus.” Di antara banyaknya alasan yang mungkin Jaya berikan, entah mengapa Jaya harus mengucapkan kalimat yang secara logika sukar untuk dipercaya.

“Kamu—Aa takut kecoa?” Jaya mengangguk. “Tuh, kan, kalau orang normal pasti bakalan takut sama kecoa. Masa, ya, Teteh aku suka banget ambilin kecoa yang lewat terus dimasukkin ke wadah dan dimainin. Mana Teteh aku nggak henti bilang ‘ih kamu lucu banget gini masa ditakutin seluruh orang di bumi’?!” Ary menirukan gaya bicara Syifa seolah-olah sedang bertukar cerita dengan makhluk tersebut.

“Nggak, ya! Aku bilangnya nggak se-alay kayak gitu!” protes Syifa setelah menyadari gaya bicara Ary terlalu dilebih-lebihkan.

Jaya menanggapi dengan tawa kecil.

“Aa ilfeel nggak sama cewek yang suka main sama makhluk patut dimusuhi nomor satu di dunia?” Salah satu Alis Ary terangkat, tak sabar menanti jawaban.

Jaya melirik Syifa yang tengah menundukkan kepala. Entah sedang menatap apa di bawah sana. “Nggak.”

Meski pertanyaan Ary hanya dijawab dengan satu kata, pipi Syifa terasa memanas.

Ary berani sumpah kalau kedua matanya tak salah lihat kakak sulungnya tengah salah tingkah. Pipi memerah, bibir menyunggingkan senyuman, lalu tak lupa dengan gelagat aneh—seperti sedang duduk di atas aspal panas, tak mau diam.


“Teteh aku kayaknya suka sama kamu, deh.”

“Ha?”

“Teteh aku kayaknya naksir sama kamu.” Ary mengulangi dengan suara lebih tinggi dari sebelumnya.

Bukan. Jaya bukan tak dapat mendengar ucapan Ary, melainkan Jaya sedang kebingungan mengapa Ary membawa topik bahasan itu secara tiba-tiba.

Tadi, bertepatan Jaya akan berpamitan untuk pulang, Ary sudah siap dengan tas biru tuanya menunggu jemputan untuk pergi ke tempat les. Jaya berpikir tak ada salahnya jika ia menawarkan Ary untuk pergi bersamanya, mengingat tempat les Ary masih satu arah dengan jalannya pulang. Awalnya Syifa menolak keras, tak mau merepotkan, Jaya tak mengerti di mana letak merepotkan sementara ide itu tercetus oleh dirinya sendiri. Jaya yang menawarkan lebih dulu.

Setelah berdebat cukup panjang, akhirnya Syifa mengiakan. Jaya tak merasa keberatan karena telah menawarkan untuk mengantarkan Ary. Walaupun Ary cukup cerewet, tapi laki-laki itu begitu penurut. Jadi, Jaya senang-senang aja.

“Ary kenapa bisa tiba-tiba ngomong kayak gitu?”

Tahu kalau Jaya sedang menatapnya dari spion, Ary membalas. “Soalnya tadi Teteh aku malu-malu. Aku nggak pernah lihat Teteh aku kayak gitu, apalagi dia bawa cowok ke rumah. Kamu yang pertama kali.”

Ary terperanjat, tubuhnya hampir oleng. Untung saja Ary cepat-cepat mencengkeram erat tas yang lebih tua. “Ih, aku kaget! Kamu pencet klakson kenapa nggak bilang-bilang dulu, sih, Aa?! Kalau aku tadi nggak pegangan sama tas kamu, pasti aku udah jatoh sekarang!” Ary tak henti mengomel. Alisnya menyatu menahan amarah.

“Maaf, maaf. Tadi tangan Aa kepeleset.”

Sial, mengapa bisa ia melakukan tindakan berbahaya seperti itu setelah mendengar kalimat terakhir dari Ary? Mengapa jari-jarinya harus terpeleset menekan tombol klakson di tengah-tengah lampu merah sedang menyala?

Habis sudah. Selepas mencoba menoleh, ia langsung disuguhkan oleh pemandangan berbagai ekspresi dari pengendara sekelilingnya. Ada yang menatapnya penuh tanya, ada yang menatapnya penuh kebencian, ada pula yang tak mengacuhkan kejadian memalukan tadi.

Walau saat ini Jaya sedang menjalankan motor, namun pikirannya malah melayang pada perkataan Ary.

“Kamu sendiri gimana? Suka nggak sama Teteh aku—”

“Itu di depan tempat les aku!” kata Ary, melupakan pertanyaan sebelumnya seraya menepuk-nepuk pundak Jaya untuk segera memberhentikan motornya.

Jaya menarik rem. Tak terhitung berapa kali Jaya menghela napas, lantaran bertepatan dengan Ary melayangkan pertanyaan, motor Jaya berhasil menyambangi tempat les sehingga menggagalkan niat Ary untuk mengungkit pertanyaan itu lagi.

Ary celingak-celinguk, memastikan kondisi jalanan dari orang-orang yang melintas. Lalu Ary terburu-buru turun, dan menyerahkan helm. “Makasih, ya, udah antar aku les. Kamu baik banget sama aku dan Teteh. Aku jadi pengen punya Aa sebaik kamu, deh.” Ary tersenyum lebar. “Aku les dulu, ya. Kamu nanti hati-hati pulangnya jangan ngebut-ngebut, soalnya kamu masih sekolah bukan pembalap kayak di televisi-televisi.”

Jaya mematung dengan kondisi mesin motor masih menyala ketika Ary tiba-tiba meraih tangannya, lalu menempelkan dahi laki-laki itu pada punggung tangan miliknya. Jaya mengedip-ngedipkan mata berulang.

Jaya spontan tertawa geli setelah menyadari kalau Ary baru saja menyalaminya.

Jaya tak menyesal karena telah berinisiatif untuk mengantarkan Syifa pulang. Justru, jika Jaya tak pernah menawarkannya, sudah dipastikan ia akan sangat menyesal.

Setelah ini, Jaya tak perlu bersembunyi-sembunyi untuk bertukar pesan dengan Ary, sebab misinya dalam merahasiakan kedekatan mereka dari Syifa tak ketahuan. Entahlah Syifa akan curiga atau tidak, yang pasti Jaya sudah berusaha sekuat tenaga berlagak baru pertama kali bertemu dengan Ary.

Dan ada yang lebih mengejutkan dari sekadar Syifa mengenalkan ia dengan Ary. Sepertinya, ide cemerlang ia untuk mencuri hati adiknya sudah berhasil.

Jaya tersenyum bangga. Tak percaya kalau ia bisa juga berada sampai di titik ini tanpa bantuan teman-temannya.


Puspas Niskala Universe

by NAAMER1CAN0


Peluh keringat menghiasi dahi Jaya selaras dengan lengan kaos terus ditarik menuju pundak. Bulir-bulir tetesan air asin itu berjatuhan, menyebabkan kondisi di beberapa bagian kaos menjadi basah. Ke mana perginya angin sampai-sampai Jaya tak bisa merasakan sedikit pun udara sejuk untuk menghilangkan rasa gerah?

“De, ambilin wadah satu lagi buat nampung oli gardan. Nanti selesai ganti oli mesin, Dede langsung ganti oli gardannya.”

Jaya beringsut, berlari demi membawakan wadah baru sesuai permintaan Papa Jajang. Keringat yang sedari tadi terus menyombongkan diri tak lain dan tak bukan salah satunya karena kegiatan Jaya yang terus-menerus berlari membawa barang ini dan barang itu. Sialnya, seolah tengah dipermainkan, jarak barang satu dengan barang lainnya sangat berjauhan.

Dengan napas masih terengah-engah, Jaya mulai melepaskan baut. Entah karena fokusnya terpecah belah atau kurang hati-hati, oli mesin meleber keluar dan mengotori lantai. Jaya memaki dirinya saat sadar kalau wadah untuk menampung oli bekas tak disimpan persis di bawahnya.

Melihat oli mesin tak lagi menetes, Jaya segera meraih corong untuk mengganti dengan oli mesin yang baru. Setelah selesai, Jaya singkirkan wadah terisi oli bekas menuju tempat lebih aman agar tak tersenggol dan tumpah—dan membuat Jaya menambah pekerjaan baru.

Jaya merasa sangat sibuk ketika sedang memperbaiki motor, ponsel dalam kantongnya terus berbunyi. Hingga akhirnya Jaya mengalah untuk memastikan siapa yang sedari tadi telah meneleponnya, setelah membaca sebuah nama pada lockscreen ponsel, Jaya hanya bisa mengerutkan dahi sembari membalas pesan itu.

Jaya memasukkan kembali ponsel, dan mengelap tumpahan oli mesin telaten. “Kata Dede, sih, ada kemungkinan pelampung bensinnya yang bermasalah, Pa,” ucap Jaya menduga-duga. Sebab, dua hari kemarin ketika Jaya menggunakan motor Teh Ivanka, fuel meter-nya masih aman.

“Belum tau, masih Papa cari penyebabnya.” Papa Jajang menjawab tanpa mengalihkan pandangan.

“Kayaknya bukan dari aki atau speedometer-nya, Pa. Soalnya tadi waktu Dede pake, speedometer-nya masih jalan normal. Teteh juga bilang di grup speedometer-nya jalan.”

Papa Jajang mengangguk. “Iya, bukan speedometer-nya yang bermasalah.”

Jaya bangkit, membersihkan tangan dengan sisa kain lap lainnya yang masih baru. Jaya mencoba membuka tangki bensin. Kedua mata Jaya menyipit, memperhatikan bagian dalam tangki yang terhalang genangan bensin. “Tapi kalau karena tangki bensinnya yang penyok mah kayaknya nggak, ya, Pa. Soalnya Dede liat asa masih aman-aman aja.”

Papa Jajang tak merespons ucapan Jaya. Sang kepala keluarga sibuk melempaskan pelampung bensin. Sedang Jaya bergantian memperhatikan aktivitas Papa Jajang dan menatap sekitar.

Papa Jajang melepaskan soket kabel, lalu menghubungkan kabel dengan pelampung bensin. Papa Jajang melirik fuel meter yang tidak memperlihatkan tanda-tanda bergerak sedikit pun. Maka, setelah itu, Papa Jajang bergegas melepaskan pelampung bensin dan memeriksa dengan teliti.

Helaan napas yang terdengar sontak membuat Jaya mengalihkan perhatian pada Papa Jajang. Selepas menyadari Papa Jajang seakan sedang mencari sesuatu, dengan cepat Jaya menyerahkan avometer. Dugaan Jaya benar, alat itu langsung diraih Papa Jajang dan langsung sibuk mengecek kondisi kabel menggunakan avometer bersamaan dengan pelampung dinaik-turunkan.

“Bener kata Dede, pelampung bensinnya yang harus diganti.”

Jaya melongok di balik bahu Papa Jajang. “Mau Dede beliin aja sekarang nggak?” tawar Jaya.

“Udah tutup, toko yang biasa bukanya cuman sampe jam tujuh malem,” kata Papa Jajang seraya melirik kondisi langit makin menggelap. Papa Jajang sudah hafal dengan jam operasi toko tersebut, sebab selain toko itu menjadi langganannya, Papa Jajang pun kenal dengan sang pemilik toko.

“Terus, kalau besok Teteh mau pergi keluar gimana, Pa?”

“Bisa pake motor Papa dulu, atau pake mobil sekalian mumpung besok Mama sama Papa libur.” Jawaban penuh keyakinan dari Papa Jajang langsung membuat Jaya mengiakan.

Sejujurnya Jaya kurang menyukai pekerjaan yang ditunda-tunda, sengaja diberhentikan sebentar lalu kembali dilanjutkan pada keesokan harinya. Menurutnya, pekerjaan yang dilakukan setengah-setengah nantinya akan kurang maksimal. Namun, mau bagaimana lagi? Toh, itu semua atas perintah dari Papa Jajang sendiri untuk dilanjutkan di esok hari.

“Pa! Sekalian tolong benerin remnya, soalnya setiap Teteh rem suka ada bunyinya!” teriak Teh Ivanka dari dalam rumah.

Mendapatkan tatapan dari Papa Jajang tanpa bersuara, Jaya pun paham. Melalui tatapan itu, Papa Jajang seolah-olah sedang berbicara dan memberinya komando untuk melaksanakan keluhan dari sang kakak. Lantas, tanpa berlama-lama, Jaya langsung mengabulkan permintaan Teh Ivanka saat itu juga.

Bunyi suara ketika melakukan pengereman, ditimbulkan karena keadaan kampas rem yang kotor. Sehingga, Jaya mau tak mau perlu membongkarnya. Pada rem bagian ban depan, Jaya tak perlu sampai membongkarnya karena kampas rem berada di samping ban. Sedangkan untuk rem bagian belakang ban, Jaya perlu membongkarnya—melepaskan knalpot sampai ban, karena kampas rem berada di tengah-tengah.

Baik Jaya maupun Papa Jajang memiliki kesibukannya masing-masing. Jaya sampai melupakan pekerjaan sebelumnya yang belum sama sekali melanjutkan aktivitas mengganti oli gardan. Seharusnya, tadi setelah mengganti oli mesin, Jaya langsung mengganti oli gardan. Namun, Jaya malah dibuat salah fokus dan berakhir mengabulkan permintaan Teh Ivanka untuk membenarkan rem motornya yang berisik.

Di tengah-tengah sedang fokus membenarkan rem, telepon yang berada di saku bokser Jaya kembali berdering. Ah, janjinya. Jaya tak langsung mengangkat, melainkan ia perlu buru-buru memasangkan kembali komponen motor terlebih dahulu yang telah ia bongkar. Jaya takut komponen-komponen itu nantinya akan berceceran dan berakhir menambah pekerjaan baru.

Merasa ponselnya masih berdering, Jaya langsung berdiri dan merogoh benda pipih itu. Takut kalau sambungan teleponnya terlanjur mati. “Pa, bentar ada telepon, Dede angkat dulu.” Jaya memamerkan layar ponselnya, namun Papa Jajang tak melirik, dan membalas ucapan Jaya dengan berdeham kecil.

Jaya menjauhi Papa Jajang, berpindah ke tempat agak sepi agar berisik dari pekerjaan sang kepala keluarga tak mengganggu. “Halo, Syifa? Kenapa?” Jaya kebingungan saat sapaan darinya tak dibalas dari seberang sana. Jaya menarik telepon, mengintip ingin memastikan kalau telepon itu masih tersambung.

“Maaf baru bisa ngangkat sekarang. Kenapa?”

Jaya menyandarkan pundak pada tiang tembok rumah yang menghubungkan atap dan teras. “Halo?” Panggil Jaya untuk kedua kalinya. Jaya bahkan sudah merelakan fakta kalau ponselnya sudah kotor. Di layar ponselnya tercetak bekas jejak debu, oli telah mengering, juga kotoran-kotoran lain berasalkan dari komponen motor.

Ketika baru saja telepon itu akan dimatikan, sebuah suara akhirnya membalas. Namun, alih-alih mendengar suara syifa yang lemah lembut, telinga Jaya justru mendengar suara laki-laki yang lebih berat dan terkesan seperti bapak-bapak.

Halo, ini dengan kakak kelasnya Syifa?

Mata Jaya menyipit kebingungan. Jaya sampai memastikan kembali bahwa sambungan telepon ini berasalkan dari telepon Syifa melalui fitur Instagram. “Iya? Ini dengan siapa, ya, maaf?” jawab Jaya ragu-ragu.

Ini dengan Ayahnya Syifa.

Jaya spontan memelotot, mulutnya menganga seolah tak percaya. Kemudian ia merasa kalau saat ini juga waktu telah berhenti, menyisakan detak jantung bertalu-talu lebih cepat dari biasanya. Lidahnya terasa kelu. Kata-katanya tertahan di tenggorokan susah untuk diucapkan.

Jaya meremas dada, berusaha mengontrol detakan di dalam sana. “Kenalin, Pak, sebelumnya saya Jaya.” Jaya memperkenalkan diri, walau jauh di dalam sana ia masih bertanya-tanya dan tak menemukan jawaban satu pun tentang alasan mengapa Ayahnya Syifa tiba-tiba meneleponnya.

Salam kenal juga, ya, Jaya. Ini Ayahnya Syifa, Ayah Isal. Tadi siang katanya kamu mampir ke rumah terus bantu benerin semprotan toilet yang rusak. Maaf, ya, niatnya mampir malah jadi harus bantu benerin kerusakan yang ada di rumah kami.

Jaya menggeleng cepat. Saking cepatnya Kepala Jaya sampai terbentur tembok. Jaya mengaduh pelan, mengusap-ngusap bekas benturan guna menyamarkan rasa sakit. “Nggak apa-apa, Pak. Malah Jaya yang harusnya minta maaf karena lancang nyentuh yang ada di rumah Bapak tanpa izin dulu. Tadi kebetulan Jaya ikut mampir ke rumah niatnya mau istirahat sebentar karena kebetulan cuacanya lagi panas banget.”

Telinga Jaya mendengar seseorang di seberang sana sedang terkekeh-kekeh. Entah karena suara benturan tadi terdengar sampai sana, atau karena jawaban darinya yang menyiratkan ketakutan. Entahlah, Jaya sendiri tak tahu.

Nggak apa-apa, Jaya, Bapak jadinya merasa diuntungkan soalnya jadi nggak perlu manggil tukang sekaligus benerin semprotannya, hehehe.

Jaya ikut menimpali dengan tawa meski terdengar canggung.

“Kalau misalnya di rumah Ayah Syifa lagi ada perabotan rumah yang rusak, bisa hubungin Jaya aja, Pak. Jaya siap bantu benerin, daripada harus keluar uang bayar tukang, hehehe.” Tawa pelan itu mengisyaratkan betapa gugupnya Jaya saat ini.

Kakak kelasnya Syifa memang bisa?

Kakak kelasnya Syifa, katanya. Jaya menggelengkan kepala guna menghalau tindakan yang hampir dibuat salah fokus.

Kalau nggak bisa, Jaya nggak akan sampai rela nawarin, Pak. Jaya menggelengkan kepala, menepis keinginan untuk menjawab pertanyaan dengan kalimat itu. Jaya takut kalau sewaktu-waktu ia keceplosan mengutarakan kalimat yang terlintas di kepala. “Kebetulan kalau tentang perabotan di rumah Jaya bisa benerin, tapi kalau kerusakan elektronik—kayak kerusakan televisi, laptop, komputer, Jaya belum terlalu bisa karena masih harus banyak latihan, Pak.”

Keren ….” Pujian itu menimbulkan senyuman pada wajah Jaya. Jaya memandang ke arah kakinya yang sedang digerak-gerakan—seakan sedang menggambar di atas lantai secara sembarang. “Oh iya, tadi juga anak saya yang bungsu bilang kalau Jaya antar dia ke tempat lesnya. Terima kasih lagi, ya, Jaya.

“Iya, Pak, sama-sama. Itu juga karena kebetulan Jaya mau pulang, jadi sekalian aja nganterin Ary ke tempat les.” Cengiran di akhir kalimatnya kentara kalau Jaya sedang salah tingkah. Gelagatnya tak henti bergerak-gerak seperti cacing sedang kepanasan.

Rumah Jaya di mana?

“Di Bojongsoang, Pak,” balas Jaya cepat, kemudian berdeham untuk mengurangi rasa bersemangat dalam menjawab pertanyaan dari Ayah Syifa.

Maaf jadi ngerepotin berulang kali, ya.

Hehehe, nggak apa-apa, Pak. Nanti kalau di rumah ada kerusakan dan butuh bantuan, Jaya siap buat bantuin.” Jaya mengubah kakinya untuk menahan beban. “Syifa nyimpen nomor Jaya, kok, kalau Bapak sewaktu-waktu butuh bantuan Jaya.”

Iya, makasih. Kalau gitu Bapak balikin teleponnya ke Syifa, ya, Jaya.

“Iya, Pak.” Badan Jaya refleks menegak, seolah-olah Ayah Syifa berada di hadapannya. Bahkan, Jaya sampai ikut menundukkan kepala, mempersilakan Ayah Syifa untuk menarik diri.

Terdengar suara grasah-grusuh sebelum akhirnya ia mendengar suara yang lemah lembut, namun terasa menggebu-gebu dalam menyapanya. “Halo, Kak Jaya?

Pundak Jaya terjatuh, melepaskan segala beban yang semula bertumpuk di sana. “Syifa, kenapa nggak bilang kalau yang mau ngomong sama Jaya itu Ayahnya Syifa.” Jaya menggaruk-garuk kepala sembari sesekali memperhatikan Papa Jajang yang sibuk mengotak-ngatik motor Teh Ivanka. Bibirnya perlan memucat.

“*Syifa juga nggak tau, Kak Jaya. Ayah Isal tadi tiba-tiba minta Syifa hubungin Kak Jaya gitu aja. Maaf, ya, Kak Jaya, Syifa langsung main telepon aja tadi. Mana spam banget lagi.*” Terdengar suara penyesalan, dan hal itu ikut membuat Jaya ikut menyesal pula.

“Nggak apa-apa. Lain kali bilang dulu, ya, biar Jaya ada persiapan buat ngobrol sama Ayah Syifanya.” Jaya menghela napas. Percakapan tadi dengan Ayah gadis itu terulang kembali di kepala, sehingga Jaya hanya bisa memohon kalau percakapan tadi bukanlah percakapan terakhir dengan beliau.

Iya, Kak Jaya. Kak Jaya ini masih sibuk, ya?” tebak Syifa, mungkin gadis itu di seberang sana bisa mendengar berisik bunyi peralatan motor yang berasalkan dari Papa Jajang.

Jaya melirik ke arah Papa Jajang yang masih bergelut dengan motor si sulung. “Iya, kebetulan belum selesai benerin motornya. Masih ada yang mau disampein nggak Syifa?”

Bukan maksud Jaya untuk segera mengakhiri sambungan telepon itu. Hanya saja, apabila masih ada yang ingin disampaikan oleh gadis itu, Jaya akan meminta waktu sebentar untuk menyelesaikan tugasnya agar percakapan mereka tak terpotong.

Nggak, Kak Jaya. Nggak ada lagi yang mau Syifa sampein sama Kak Jaya.

Jaya manggut-manggut. “Yaudah kalau gitu Jaya tutup, ya, teleponnya.” Jaya medongak, memandang langit dengan secuil senyuman terlukis pada wajahnya.

“Iya. Makasih, ya, Kak Jaya.”

Ketika baru saja Jaya akan menutup sambungan telepon, Syifa dengan cepat kembali bersuara dan menggagalkan pergerakan Jaya menekan tombol merah.

Eh, Kak Jaya, sebentar!

Jaya kembali menempelkan ponsel pada telinganya. “Ya?”

Semangat, ya, benerin motornya. Tadi di rumah Ayah Syifa nggak henti muji-muji Kak Jaya, tau.” Syifa terkekeh-kekeh, dari bagaimana gadis itu tertawa Jaya jadi dibuat penasaran. Pujian apa yang tak henti Ayah Syifa ucapkan sampai gadis itu tertawa menahan rasa geli?

Syifa tutup, ya, teleponnya. Dadah, Kak Jaya!

Belum sempat Jaya membalas, sambungan itu benar-benar telah diputuskan secara sepihak oleh Syifa. Jaya bergeming dengan kondisi mata membulat, kemudian pada detik selanjutnya mengedip-ngedip seakan tengah berusaha memberi sinyal pada otaknya agar ia tak diberikan gelagat salah tingkah untuk kesekian kalinya.

Jaya berjalan mendekati Papa Jajang dengan kondisi wajah tersenyum lebar. “Pa, Dede mau cuci motor sekarang.” Benda pipih itu sudah Jaya masukkan kembali ke dalam bokser bergambarkan kepala tengkorak.

Papa Jajang menengok. “Lah, Dede, kan, tadi lagi benerin rem. Emangnya udah selesai?”

“Udah.” Telunjuk Jaya bergerak menunjuk ban depan dan belakang secara bergantian. Papa Jajang pun mengikuti arah tunjuk dari si bungsu. Dan benar saja, pekerjaan itu telah selesai dengan kondisi seperti semula.

Merasa tak ada lagi tanda-tanda Papa jajang akan membalas, Jaya kembali berbicara. “Dede mau cuci motor. Benerin motor Tetehnya Papa lanjutin sendiri aja, ya.”

Si bungsu pergi melewati Papa Jajang begitu saja.

“Lah, Dede, itu oli satunya lagi belum diganti!” teriak Papa Jajang berharap si bungsi akan memutar badan dan kembali berjongkok—menyelesaikan aktivitas mengganti oli gardan yang belum tersentuh sama sekali. “Motor Papa nggak usah dicuci! Kemarin banget baru Dede cuci!”

Sayangnya, Jaya sama sekali tak mengindahkan kalimat dari Papa Jajang. Kini, dua motor sudah distandar dua di hadapannya. Selang air di arahkan pada masing-masing motor secara bergantian. Aliran air keluar dari selang dan membasahi setiap bagian motor.

Papa Jajang yang bisa menyaksikan aksi si bungsu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Mana ada orang yang rajin mencuci motor setiap hari? Terlebih, mana ada orang yang selalu mencuci motor pada malam hari. Dalam keadaan cuaca panas maupun hujan, si bungsu selalu bersemangat mencuci motor. Normalnya, orang-orang tidak akan mencuci motornya ketika sedang hujan.

Dan, yang lebih Papa Jajang bingungkan adalah, Papa Jajang selalu menyaksikan bagaimana raut wajah si bungsi saat mencuci motor. Si bungsu akan tersenyum lebar dengan berbagai jenis tawa keluar dari mulutnya. Papa Jajang bahkan pernah sampai terpikirkan akan mendatangkan orang pintar demi mengusir jin yang mungkin sudah memasuki tubuh anaknya.

Seperti saat ini, si bungsu sedang tertawa kegirangan sendiri di tengah-tengah kegiatan mencuci motor, seolah-olah sudah berhasil mendapatkan hadiah terbaik yang tak ternilai harganya.


Puspas Niskala Universe by NAAMER1CAN0


Syifa sudah siap di tempat duduknya ketika bel sekolah berbunyi. Satu per satu orang tergesa menempati bangku, tak sabar menantikan sang pengawas yang akan duduk di meja depan. Namun, tidak untuk dua orang sedang asyik diam diri di pintu. Kedua laki-laki itu tengah harap-harap cemas saat mulai melihat guru-guru berhamburan pergi ke kelasnya masing-masing.

“Siapa, euy, pengawas kelas arurang, Ri, Cip?” kata Hasan.

Bukannya menjawab pertanyaan Hasan, Cipta dan Harri malah menggelengkan kepala serta tangan mengepal di dada, seolah tengah berdoa apabila yang dilihat saat ini tak sesuai dengan apa yang mereka pikirkan.

Sayangnya, untuk kali ini doa mereka tak terkabulkan. Alih-alih menjauhi kelasnya, salah satu sang pengawas di depan sana malah makin mendekat.

“Siap-siap, kelas arurang sama Sensei Turi!” Harri berlari menuju tempat duduk. Suasana yang semula tenang berubah sekejap menjadi bising. Jika dilihat dari raut wajah para kakak kelasnya, sepertinya sang pengawas nanti bukanlah pengawas yang diidam-idamkan untuk datang.

“Emang kenapa sama Sensei Turi, A Jagat?” tanya Syifa penasaran, sebab ia tak pernah diajar oleh guru Bahasa Jepang tersebut. Dan setahunya, kelas sepuluh pun tak ada yang kedapatan diajar oleh beliau.

“Beliau orangnya tegas. Kadang kalau ngerasa lagi bosen, beliau sesekali suka jalan-jalan sambil liatin kita ngerjain soal.”

Mulut Syifa membulat. Ia menatap Jaya dan Harri bergantian. Lalu bagaimana dengan permintaan mereka nanti?

Jaya yang merasa pandangan dari adik kelasnya itu bukan tatapan biasa—seperti dibaluti kekhawatiran, lantas menaikkan alis seolah bertanya mengapa telah menatapnya dengan ekspresi seperti itu. Namun yang bersangkutan membalasnya dengan gelengan kepala.

“Cip!” Syifa menoleh. “Jangan lupa, ya, titipan Aa nanti!” kata Harri berseri-seri seraya mengacungkan jempol.

“Harri nitip apa sama kamu?” tanya Jagat, sebab jika dilihat dari gelagat Harri cukup membuat Jagat curiga. Kecurigaan itu dikuatkan oleh tatapan Syifa yang memperlihatkan gelisah melirik Jaya dan Harri bergantian.

Syifa menggeleng. “O-oh, itu … A Harri nitip sesuatu yang ada kaitannya sama Kak Jaya, A Jagat,” kilah Syifa, mengucapkan asal jawaban yang saat itu terlintas dalam kepalanya.

Alis Jagat menaik, terdengar dari bagaimana Syifa menjawab pertanyaan darinya, Jagat bisa menarik simpulan bahwa sang adik kelas tengah berbohong. Mata yang terus-menerus menatap langit-langit ruangan, jari-jemari saling memainkan satu sama lain, dan suara sedikit gelagapan.

“Saya cuman mau ngingetin aja, hati-hati. Apa pun permintaan itu yang sekiranya buat kamu rugi, jangan dilakuin. Sensei Turi nggak main-main tegasnya.”

Entah kalimat itu sebatas gertakan atau memang sungguhan, nyali Syifa mendadak hilang terbawa angin yang datang melalui ventilasi. Apabila diingat-ingat dari kata per kata yang telah diucapkan Jagat, Syifa yakin bahwa sang kakak kelas tidak sedang mengada-ngada.

Helaan napas kasar keluar dari mulut Syifa saat selembar kertas jawaban beserta soal telah tersimpan rapi di atas meja. Masih pagi sudah disuguhkan dengan soal matematika yang memusingkan. Bahkan, hanya dengan melihat sekilas pertanyaan-pertanyaan itu, kepala Syifa langsung berdenyut.

Dengan susah payah melawan rasa malas, Syifa akhirnya memulai untuk memberikan bulatan pada bagian identitas diri. Syifa tak tahu apakah ia beserta murid di ruangan delapan termasuk orang-orang yang beruntung atau tidak, sebab Sensei Turi saat ini sedang sibuk dengan beberapa berkas di atas mejanya.

Karena tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Syifa cepat-cepat mengerjakan soal dari yang menurutnya paling mudah dan tak akan banyak menyita waktu.

Kekhawatiran perihal ia tak dapat mengerjakan soal tak sepenuhnya benar, lantaran waktu sudah hampir berjalan selama dua puluh menit dan ia masih sanggup menghitung soal-soal selanjutnya.

Belum genap lima menit berlalu dari memuji kelancaran mengerjakan soal, sampai akhirnya Syifa kini hanya bisa menatap salah satu soal dengan raut kebingungan. Kuku-kuku jari tak henti ia gigit, sebagian rambutnya telah berantakan—ia acak-acak—dengan harapan rumus-rumus yang sudah dilupakan akan kembali teringat.

Sayangnya, makin ia mencoba mengingat, makin kosong pula isi kepalanya.

Pada akhirnya, Syifa hanya bisa menggigit bibir seraya menolehkan wajah ke samping. “A Jagat, t-tau rumus beberapa bangun ruang, nggak?” bisik Syifa penuh keraguan dalam ucapannya, takut apabila suaranya mampu terdengar sampai telinga sang pengawas.

“Tau.”

“Boleh nggak kalau Syifa minta A Jagat buat tulisin beberapa rumus bangun ruang yang lengkap di kertas coretan Syifa yang ini?” Bola mata Syifa memperlihatkan tatapan penuh harap. “Syifa beneran lupa rumusnya, mau capcipcup tapi takut nanti nilai Syifa jadi taruhannya.”

“Deketin kertasnya ke arah saya, biar saya tulis.”

Maka, pandangan Syifa langsung tertuju pada sang pengawas di depan. Ia mencoba memberikan raut pura-pura berpikir, sedang tangan kirinya berusaha menggeser kertas coretan pada Jagat. Kalau soal akting-akting seperti ini, ia sendiri ahlinya.

Tak berselang lama, kertas coretan Syifa sudah kembali pada posisi semula. Baru saja Jagat akan kembali mengerjakan soal, Syifa tiba-tiba mencolek lengannya. Jagat melirik ke arah gadis itu, kemudian terjatuh pada beberapa huruf yang selesai Syifa tuliskan di atas kertas. Jagat mengangguk pelan, memberi jawaban dari tulisan ‘makasih A Jagat’.

Syifa kagetnya bukan main ketika seseorang berdiri di sampingnya. Ia pikir hidupnya akan berakhir pada detik itu juga. Tapi setelah mencoba mengingat-ingat, ia sama sekali belum meluncurkan aksi kepada Jaya maupun Harri.

“Tanda tangan dulu di nomor empat belas,” ujar sang pengawas.

Begitu kalimat itu selesai diucapkan, Syifa bisa bernapas lega. Ia kira sang pengawas datang karena telah mencurigai dirinya.

Tak sengaja melihat tindakan sang adik kelas yang sedari tadi tak henti menepuk dada, Jagat malah dibuat salah fokus oleh salah satu soal yang sepertinya baru gadis itu selesai kerjakan.

“Nomor sepuluh kamu salah hitung, tuh. Harusnya jawabannya B bukan C, coba dilihat lagi baik-baik,” ceplos Jagat menghentikan aktivitas Syifa dalam menenangkan diri.

“Eh, masa, sih, salah? Syifa kerjainnya udah bener, kok, A Jagat.” Alis Syifa menekuk, memperhatikan satu per satu angka serta lambangnya. Ia takut jika benar-benar salah dalam menghitungnya.

Lantas, Jagat segera menarik kertas coretan sang adik kelas tanpa mengeluarkan suara. Jagat menulis ulang soal serta jawaban yang tak sepenuhnya ia isi—sengaja agar dilanjutkan oleh Syifa nanti. Namun, ketika Jagat mencoba fokus membantu sang adik kelas, tiba-tiba seutas senyuman muncul membuat laki-laki itu tak mampu menahan raut wajahnya kala tak sengaja membaca beberapa kalimat di kertas coretan tersebut.

“Lanjutin sisanya, tinggal kamu isi-isi aja.”

Syifa mengangguk. Ternyata ada untungnya juga ia bisa berbagi meja dengan orang pintar. Rasanya Syifa telah menyesal karena pernah meragukan kemampuan kakak kelasnya itu.

Saat sedang asyik menghitung ulang, tiba-tiba Syifa teringat dengan permintaan Jaya dan Harri. Maka, Syifa cepat-cepat memastikan bahwa sang pengawas telah fokus dengan pekerjannya sendiri sebelum akan melancarkan aksinya.

Syifa lirik sekilas ke arah lembar jawaban Jagat. Tangan yang sibuk menulis ulang jawaban dari laki-laki di sampingnya, sementara matanya bergerak menatap jawaban serta sang pengawas penuh kehati-hatian.

Senyum Syifa merekah selepas berhasil menyalin tiga puluh lima nomor soal pilihan ganda. Untuk dua nomor esai harus Syifa relakan, sebab ia sendiri bingung harus menyerahkan jawaban dengan cara apa pada mereka.

“Jangan berisik, ya, saya mau ke toilet sebentar. Jangan ada yang berani saling tukar jawaban dengan temannya,” kata Sensei Turi sebelum pergi meninggalkan ruangan.

Sepeninggalan sang pengawas, kelas yang semula tenang berubah agak ricuh. Bisikan demi bisikan bisa Syifa dengar termasuk bisikan dari Harri yang tak henti memanggil namanya.

Seolah tahu apa yang akan dilakukan Syifa pada Harri, Jaya tak berniat memutuskan pandangan sedari tadi. Matanya sudah siap membaca gerakan mulut Syifa dan tangannya sudah siap mencatat.

Syifa berusaha tenang, kepalanya tetap lurus ke depan. Namun mulutnya tak henti bergerak tanpa suara dengan tangan memberikan gestur angka satu dan angka lain-lainnya secara bergantian.

Selain takut apabila ternyata diam-diam sang pengawas penyimpan kamera tersembunyi, Syifa pun takut apabila laki-laki di sampingnya sadar bahwa ia telah menyalin ulang jawabannya.

Bertepatan Syifa menggumamkan nomor terakhir, sang pengawas pun kembali datang. Ricuhnya ruangan tersebut seketika langsung hening dalam sekejap, menyisakan suara lembar soal yang dibuka-tutup dan denting jarum jam.

Entah karena sang pengawas telah mendengar berisiknya ruang delapan dari kejauhan atau memang merasa kalau anak-anak di ruang delapan tak menuruti perintahnya, pada menit-menit terakhir Sensei Turi tak henti berjalan-jalan dan memeriksa satu per satu lembar jawaban para muridnya.

Syifa yang ingat kalau pada kertas coretannya memuat contekan dari jawaban Jagat, lantas cepat-cepat Syifa balikan. Syifa memperlihatkan bagian sisi coretan lain agar tak menjadi bulan-bulanan sang pengawas.

“Lembar jawaban sama soal disimpan saja di atas meja, tapi untuk lembar jawaban jangan lupa dibalik biar nanti saya yang rapikan sendiri. Kalau sudah selesai silakan keluar meninggalkan kelas.”

Pada detik-detik terakhir, Syifa dibuat was-was lantaran ia menyisakan satu soal terakhir yang belum diisi. Syifa sudah mencoba untuk fokus, tapi suara langkah dari sepatu hak sang pengawas membuat isi kepalanya buyar.

Sampai akhirnya bel yang menyatakan ujian hari kedua pada jam pertama telah selesai, Syifa pun memilih untuk asal membulatkan jawaban. Tak apa-apa, yang penting ia sudah menjawab soal sisanya dengan sungguh-sungguh.

Sesuai dengan arahan Sensei Turi, Syifa meninggalkan soal serta jawaban di meja. Kertas coretan serta papan dan alat tulisnya akan Syifa kembali masukkan ke dalam tas—sengaja disimpan di depan kelas.

“Syifa,” panggil Jagat membuat Syifa menoleh. “Lembar coretan kamu tadi boleh saya bawa nggak? Saya mau mastiin kalau hitungan yang saya kasih tadi bener atau nggak.”

Syifa mengangguk, menyerahkan semua lembar coretan itu tanpa banyak bertanya. “Boleh A Jagat, ngomong-ngomong makasih banyak udah bantu Syifa, ya, tadi.”

Jagat mengangguk dan mengulas senyum. “Sama-sama.”

Jaya yang tak sengaja mendengar percakapan dari kedua orang itu hanya bisa memutar bola mata malas. “Cih.” Raut masam tercetak jelas pada wajah Jaya. Ia menarik pundak Harri secara paksa untuk segera keluar dari kelas. Bahkan parahnya, ia tak berniat menunggu Jagat barang sejenak yang masih merapikan barang-barangnya di dalam.

Eta si Jagat tinggaleun, Jang!” ucap Harri dengan langkah yang susah payah untuk diseimbangkan.

“Itu Jagat ketinggalan, Jang!”

“Biarin, entar juga nyusul sendiri anaknya,” balas Jaya sedikit ketus.


Puspas Niskala Universe

by NAAMER1CAN0


Berisik obrolan tentang soal ujian pada jam pertama cukup mengganggu Jaya dalam melewati segerombolan orang-orang yang diam di depan kelas dan menghalangi jalan. Lagi pula untuk apa tetap membahas soal ujian yang sudah dilaksanakan? Toh, hal itu tidak akan merubah apa pun jawaban yang sudah diisi. Apabila mereka melakukan itu untuk berjaga-jaga jika gagal dalam ujian hari ini, bukankah secara tidak langsung mereka sudah meremehkan kemampuannya sendiri?

Kerjakan dan lupakan adalah prinsip yang selalu ia lakukan ketika berhadapan dengan ujian. Setelah keluar dari ruang ujian, ia tak akan membuang waktu untuk memikirkan segala tentang soal-soal yang memusingkan. Jika hal itu ia lakukan, yang ada, obrolan tentang mengoreksi soal-soal itu berpeluang membuat sesal karena takut apabila jawaban ia dengan mereka berbeda. Sehingga hal tersebut akan mempengaruhi ujian selanjutnya.

“Gat,” panggil Jaya membuat laki-laki di sebelahnya yang sedang mengemut permen menoleh.

Jaya membasahi bibir, sedang mempertimbangkan apakah ia perlu mengucapkan hal tersebut atau tidak. “Nitip, dong, Gat. Kasihin ke temen sebangku maneh.” Akhirnya setelah pertimbangan yang lama, kalimat itu keluar juga dari mulut Jaya.

Jagat melirik sekilas pada barang yang disodorkan Jaya, kemudian menggeleng. “Males, kasihin sendiri aja sana.” Penolakan tersebut menghadirkan dengkusan tak suka dari Jaya.

“Tolong, Gat.” Jaya menggoyangkan makanan dan minuman itu, bersikeras memohon agar Jagat bersedia membantunya. Lagi pula tak biasanya satu temannya itu langsung menolak tanpa mempertimbangkan dahulu.

Jagat mengangkat alis. “Yang butuh siapa?”

Jawaban itu diucapkan secara halus, namun terkesan ketus. “Anying, yaudah nggak jadi.” Dengan begini, mungkin saja hati Jagat tiba-tiba tergerakkan untuk bersedia membantu.

Jagat mengangkat bahu tak acuh. “Yaudah, mending nggak usah. Lagian percuma juga kalau niat ngasih, tapi nggak mau nyerahin sendiri.”

Sial, selama Jaya kenal dengan laki-laki itu, ia tak pernah sekali pun ditolak untuk dimintai tolong. Bagaimana dari betapa ketusnya balasan kalimat itu, ia sudah memantapkan hati agar tidak memaksanya lagi.

Kini hanya ada dua pilihan, antara mau tidak mau ia yang harus memberikannya sendiri atau tidak melakukannya sama sekali.

Jaya bertanya-tanya apa yang sudah menjadikan laki-laki itu terkesan ketus? Apakah karena ucapan asal Harri dan beberapa teman satu kelasnya yang telah mengatakan kalimat-kalimat penuh candaan perihal teman satu bangku? Jika jawabannya iya, seharusnya Jagat tidak menjadikan dirinya sebagai samsak persoalan tersebut. Toh, ia sendiri sama-sama korban dari kejahilan mereka.

Terlampau asyik bergumul dengan pikirannya sendiri, Jaya tidak sadar bahwa langkah kaki Jagat sudah lebih dulu berhenti di depan pintu kelas. Jagat menengok pada sesuatu yang sedang Jaya pegang. “Sana kasihin sendiri sebelum saya masuk, duduk di sebelahnya, dan cengcengin kamu kalau saya lihat sendiri kamu nyerahin makanan dan minuman itu di depan mata saya.”

Paham akan ucapan itu, kepala Jaya bergerak memutar untuk memastikan bahwa tak ada Harri ataupun temannya yang lain di sekitar mereka. “Harri lagi mampir ke ruangan pacarnya,” ucap Jagat.

Sepertinya ia terlalu terang-terangan memperlihatkan gerak-gerik tersebut sampai Jagat paham dengan gelagatnya yang ketakutan.

Perlahan Jaya memasuki ruangan, berjalan menuju meja seorang gadis yang tengah sibuk dengan buku mata pelajaran ujian selanjutnya.

Tanpa kata dan terkesan tiba-tiba, Jaya langsung menyimpan satu bungkus roti coklat serta susu coklat di atas meja sang gadis. Dan, tanpa berpamitan, Jaya meninggalkan meja tersebut lalu duduk di bangkunya sendiri.

Sontak Syifa dibuat terkejut dengan kehadiran roti dan susu yang tiba-tiba di atas mejanya itu.

Syifa menutup buku, menoleh pada Jaya yang sedang bermain ponsel. “Kak Jaya, kayaknya ini Kak Jaya salah naro, deh.” Roti dan susu itu baru saja akan Syifa geser, karena ia pikir makanan dan minuman itu titipan Jagat. Namun, yang ia lihat justru Jaya tengah menggelengkan kepala. “Nggak. Itu emang buat Syifa, kok. Jangan lupa dimakan soalnya dari tadi Syifa nggak keluar kelas.”

Tangan Syifa yang semula akan memindahkan roti dan susu itu, otomatis ditarik kembali. Dengan raut wajah masih terlihat terkejut, kemudian digantikan oleh senyuman manis sebab tak menyangka bahwa ia akan merasakan kejadian itu seperti yang biasanya sering ia lihat di layar-layar kaca.

“Makasih, Kak Jaya. Syifa minum, ya, susunya.”

Jaya membalas ucapan itu dengan dehaman kecil.

Syifa mendadak membenarkan duduknya, lalu berusaha sekuat tenaga menahan raut wajah agar tak kelepasan memamerkan senyuman yang akan membuat seseorang yang baru memasuki kelas bertanya-tanya. Laki-laki itu mengisi kursi di sebelahnya, kemudian menundukkan kepala—menenggelamkan wajah di antara tangan yang dilipat di atas meja. Melihat Jagat yang tampak tengah mengistirahatkan diri, senyuman yang semula mati-matian Syifa tahan pun kembali terlihat.

Aneh. Ini hanya sebuah susu biasa, tapi ajaibnya susu itu tak henti membuat bibirnya selalu ingin memperlihatkan senyuman yang lebar. Apa yang salah dengan dirinya? Lagi-lagi segala tentang kakak kelasnya itu selalu pintar membuatnya merona dengan perlakuan kecilnya.


Sejak sang pengawas datang, lalu membagikan kertas soal dan jawaban, Syifa sama sekali belum menggerakkan jemarinya untuk mengisi identitas diri di lembar kertas jawaban. Pikirannya tengah dipenuhi oleh sosok laki-laki pemilik nomor meja lima belas. Kedua ujung bibirnya menaik, merepresentasikan gadis itu kentara amat sedang bahagia.

Mendengar batuk kecil dari seseorang di sebelahnya, kemudian kesadaran Syifa kembali. Syifa tak tahu apakah laki-laki itu sengaja batuk atau memang batuk sungguhan, tapi yang pasti ia berterima kasih karena secara tidak langsung Jagat telah mengembalikan kesadarannya untuk segera mengisi soal-soal ujian tersebut.

Situasi di ruangan cukup tenang, tak terdengar sedikit pun suara-suara bisikan, yang terdengar hanyalah suara kertas yang dibuka saling bersahutan.

Baginya, pelajaran Bahasa Indonesia tergolong mudah—tidak seperti mata pelajaran matematika yang mengharuskan bergelut dengan angka-angka, hanya saja terkadang sering terkecoh oleh jawaban yang menurutnya benar. Belum lagi dihadapkan dengan soal-soal cerita yang rata-rata panjang. Jika ia lengah sedikit dan lupa dengan apa yang sudah dibaca, maka ia harus kembali membacanya dari awal. Dan berakhir menghabiskan waktu secara cuma-cuma.

Untuk mengistirahatkan otaknya yang sudah siap mengepulkan asap, Syifa diam-diam mencuri pandang ke meja sebelah. Kepalanya tak sepenuhnya menengok, sebatas mengandalkan matanya untuk melirik.

Bila satu minggu kemarin ia tak henti memuji betapa indahnya langit sore dari loteng rumahnya, sampai berulang kali mengatakan langit sore itu adalah objek terindah yang pernah ia pandangi dan ia menyukainya, maka dengan secepat kilat ia tambahkan kalau ucapan tempo hari ada kekeliruan. Sebab, alih-alih langit sore, ternyata ia lebih menyukai pandangi Jaya yang sedang disibukkan oleh soal ujian.

Alis yang mengerut, bibir yang tak henti bergerak membaca soal tanpa suara, tubuh membungkuk, adalah pandangan yang sulit untuk bisa ia padangi lagi di kemudian hari. Hanya dengan memandang kakak kelasnya secara diam-diam itu, ia sukses tersipu. Mati-matian Syifa mengulum senyum agar tak membuat sang pengawas curiga.

Sayangnya pertahanan untuk tak mempertontonkan senyumannya itu gagal, sebab saat berniat ingin melirik kertas jawaban miliknya, mata Syifa tak sengaja menatap kotak susu yang baru setengah ia minum—sengaja karena tak ingin langsung ia habiskan. Kemudian tatapan itu terjatuh pada bungkus roti. Alih-alih membuangnya, Syifa justru sengaja menyimpannya.

Adegan mencuri-curi pandang ini mengingatkan Syifa pada saat SMP dulu. Syifa pernah berada di situasi ini. Bedanya, dulu Jaya duduk di sebelahnya.

Ada kalanya Syifa kesal dengan sang kakak kelas teman satu bangkunya itu, bagaimana tidak ketika ia berniat ingin mencuri pandang ke arah Jaya lagi, akan tetapi tubuh Jagat malah menghalanginya. Syifa bingung sendiri mengapa Jagat lebih senang mengerjakan soal dengan posisi tubuh tegap dibandingkan membungkuk. Padahal apabila Jagat sedikit membungkukkan badannya, pasti dengan mudah ia bisa untuk memandang Jaya.

Lantaran kekesalan itu tak kunjung hilang, akhirnya Syifa memilih melanjutkan mengisi soal. Walau sesekali matanya tak bisa diam karena lagi-lagi bergerak menuju tempat yang sama.

Jika ditanya berapa perbandingan persentase Syifa fokus mengerjakan soal dan fokus memandang Jaya, maka Syifa akan menjawab 90% fokus mencuri pandang, sementara sisanya persentase ia fokus mengerjakan soal.

Saat sedang hening-heningnya, tiba-tiba seseorang mengacungkan tangan. “Bu, kalau misalnya ada yang udah selesai ngerjain, udah bisa dikumpulin dan pulang belum?” tanya Jagat menghadirkan tatapan terkejut dari penghuni ruangan delapan, termasuk Syifa di sebelahnya.

Sang pengawas melirik ke arah luar melalui jendela, lalu memperhatikan jam dinding di depan kelas. “Masih jam setengah sebelas, ruangan lain juga belum ada yang keluar. Setidaknya tunggu sampai jam sebelas lebih, ya.” Jagat menurunkan tangan, kemudian mengangguk. “Dicek lagi, ya, soal sama jawabannya. Pastiin identitasnya diisi dengan benar jangan sampai ada yang terlewatkan,” lanjut sang pengawas mewanti-wanti.

Sebab penasaran apakah Jagat benar-benar telah menyelesaikan ujiannya, mata Syifa bergerak untuk mencuri pandang pada lembar jawaban kakak kelasnya itu. Setelah menyadari bahwa Jagat tidak sedang membual, Syifa otomatis memelotot. Ia tiba-tiba teringat bahwa lembar jawabannya masih banyak yang kosong. Maka, Syifa cepat-cepat mengerjakan dengan khusyuk. Melupakan sejenak presensi Jaya di meja sebelah—sang tersangka yang sudah membuat ia tak menganggap keberadaan soal ujiannya ada.

Di tengah aktivitas Syifa sedang fokus mengerjakan soal, Jaya menoleh dan tersenyum kecil melihat pemandangan itu. Kemudian senyuman itu disusul tawa sangat pelan sebab merasa gemas dengan berbagai ekspresi yang baru saja Syifa perlihatkan.

Tepat di jam sebelas lebih dua puluh dua menit, sang pengawas pun mengatakan bagi siapa pun yang elah selesai mengerjakan soal ujian, boleh dikumpulkan. Namun dengan syarat memastikan telah menanda tangani kertas kehadiran. Sang pengawas tak lupa menambahkan kalau soal ujian cukup disimpan di atas meja, sementara lembar jawaban dibawa ke depan dan disimpan di meja guru.

Jagat menengok. “Syifa, mau saya bantuin nggak?” tanya Jagat sangat pelan terkesan seperti berbisik.

Alis Syifa menyatu keheranan. “Bantuin apa, A? A Jagat mau bantuin Syifa isi soal ujiannya?” balas Syifa sedikit berharap apabila Jagat akan mengiakan ucapannya.

Jagat menggeleng pelan. Laki-laki itu terburu mengemasi barang sembari menatap meja sebelah. “Udah saya bantuin, nih. Jangan lupa fokus sama soal, ya, soalnya itu masih banyak yang belum kamu isi,” kata Jagat sebelum akhirnya laki-laki itu mengedipkan mata dan meninggalkan meja mereka.

Syifa hanya bisa menatap kepergian Jagat dengan berbagai pertanyaan masih bersarang di kepala. Bantuan apa yang dimaksud kakak kelasnya itu?

Di tengah kebingungan yang masih melanda, Syifa tak sengaja menolehkan wajah—berniat ingin menatap bangku di sebelahnya yang kosong, namun berujung beradu tatap dengan mata milik Jaya. Syifa spontan memelotot lalu memutuskan pandangan untuk kembali membaca soal.

Sementara Jaya yang mendapatkan respons itu hanya kebingungan. Mengapa gadis itu begitu terburu-buru memutus pandangan ketika mata mereka saling bertemu?

Syifa menggurutu kesal di dalam hati. “Ah! A Jagat kenapa malah pulang duluan, jadinya Syifa udah nggak bisa ngintip Kak Jaya diem-diem lagi!


Puspas Niskala Universe

by NAAMER1CAN0


Mata pelajaran kali ini menjadi ujian penutup di minggu pertama. Rasanya lega saat menyadari ia mendapatkan waktu dua hari untuk bersantai, melupakan sejenak apabila senin setelahnya masih harus bertempur dengan soal-soal.

Syifa menarik napas dalam-dalam, tangannya sibuk memasukkan barang ke dalam tas.

“Kalau didenger dari suara napasnya, kayak lagi pikul beban yang berat.”

Syifa mengekeh. Selain karena alasan mata pelajaran fisika yang sudah membuat rasa optimisnya lenyap begitu saja, Syifa pun merasa menyesal karena tak bisa menyelesaikan ujian lebih dulu. Jika sudah seperti ini, pasti di luar gerbang sana sudah dipadati para murid yang sedang mengantre memesan ojek online. Syifa harus merelakan waktu istirahatnya lebih awal.

“Emang Kak Jaya nggak pusing sama ulangan fisika tadi?”

“Pusing, tapi nggak sampe ngehela napas kayak gini,” kata Jaya sembari mencontohkan ulang bagaimana gadis itu tadi menghela napas penuh beban, seperti tengah memikul puluhan karung beras pada pundaknya.

Syifa nyaris mempertontonkan reaksi wajahnya yang memandang laki-laki itu dengan tatapan maut. Kakak kelas itu tampaknya sudah lebih mahir dalam berseloroh.

Padahal aslinya Jaya sedikit kikuk apabila senda gurau tadi sampai pada telinga beberapa orang yang masih tinggal di kelas. Harri dan Jagat untungnya sudah lenyap duluan. Jagat berpamitan untuk langsung pulang, sedang Harri berpamitan untuk ke kantin karena perlu menuntaskan rasa lapar. Sementara beberapa teman dekat Syifa pun tak dapat Jaya temukan di dalam kelas, sehingga ia berspekulasi bahwa mereka sudah ikutan lenyap meninggalkan kelas.

“Langsung pulang nggak, Syifa?” Jaya kembali membuka suara. Intonasi suaranya tak meninggi, juga tak merendah.

“Iya, Kak Jaya. Soalnya besok libur jadi buat apa juga Syifa belajar sekarang, yang ada udah terlanjur lupa duluan.” Kalimat itu diselingi tawa kecil.

Jaya mengeluarkan jaket dari dalam tas, lalu memakainya. Kancing jaket itu dibiarkan terbuka, memperlihatkan sebagian seragam putih. Jaya tak terlalu senang memakai jaket yang dikancingkan. Pengap, dan pergerakannya jadi terbatas.

“Ayo Jaya anter.” Nada suara itu terdengar sangat lembut sampai-sampai jantung Syifa langsung bereaksi tak mengenal situasi—berdegup tak karuan. Syifa sampai tak sadar bahwa dalam kalimat itu terkandung sebuah harapan.

Awalnya Syifa mengira kalau kalimat itu sebuah guyonan belaka, mengingat akhir-akhir ini Jaya sudah mahir melemparkan berbagai lelucon. Namun, selepas melihat Jaya berdiam di ambang pintu dengan tas sudah rapi tersampai di punggungnya, Syifa jadi sangat yak